Catatan Sepakbola
TERKAM HARIMAU RAWA...!
Oleh Lukman Emha
Persiraja tak membawa pulang poin satupun dalam tur Jawa kali ini. Musawir Cs ditekuk 1-0 oleh tuan rumah Persipasi dan dibantai Persita di Stadion Benteng Tangerang dengan marka 3-1. Di Stadion Lampineung Selasa petang (29/3), Persiraja kedatangan tamu sangar Persih Tembilahan yang berjuluk Harimau Rawa.
Bacalah karakter harimau bila ingin menaklukkannya. Iseng, saya browsing pakai jasa om google dan klik. Ternyata beberapa karakter harimau yang saya jumpai diantaranya adalah agresif, tanpa basa basi, suka pegang kendali, menghindari detail, fokus dengan hasil dan tujuan akhir, dan tidak suka membuang-buang waktu. Karakter begini ngeri sekali. Apakah Persih Tembilahan se-ngeri itu?
Banyak alasan pemberian julukan untuk sebuah tim atau kesebelasan. Biasanya sebuah tim dijuluki karena merepresentasikan karakter yang dijuluki. Misalnya, Brazil dijuluki Tim Samba karena pemain-pemainnya gemar bersamba-ria dalam permainan sepakbola mereka. Jerman dijuluki Panzer lantaran pola serangannya kaku seperti panzer.
Sayang, kita tidak punya rekaman pertandingan Persih untuk memastikan apakah permainan mereka benar-benar berkarakter harimau rawa. Untuk mewaspadai, kita anggap saja Persih memenuhi syarat untuk dijuluki Harimau Rawa. Jika demikian halnya, maka allenatore Persiraja harus sudah punya strategi menaklukkan si raja rawa itu.
Para tetua di Aceh sering mengingatkan, kalau berjumpa dengan harimau di hutan, jangan sesekali membelakanginya. Pamali alias pantang katanya. Bila pantangan ini tidak digubris, alamat diterkam oleh si raja hutan itu.
Harimau rawa saya pikir tidak berbeda jauh dengan karakter harimau hutan. Salah satu kekuatan harimau terletak pada sorotan matanya yang tajam. Oleh sebab itu, tetua menganjurkan, kalau ketemu harimau tataplah matanya dan jangan sampai berkedip sampai harimau menyerah dan mundur.
Kekuatan sorotan mata harimau dalam sepakbola bisa diterjemahkan sebagai visi permainan sebuah tim. Misalnya sebuah tim memasang visi asal menang walau dengan cara apapun, yang penting hasil akhir. Tim lainnya memasang visi, menang dengan main indah.
Italia mungkin mewakili visi sepakbola yang pertama. Makanya, bagi Italia permainan indah tidak penting. Yang penting menang. Mereka pemilik sah catenaccio alias pertahanan gerendel karena tak segan-segan memperagakan permainan ultra defensive dengan menempatkan 6 sampai 8 pemainnya di sektor pertahanan untuk melindungi gawangnya dari ancaman lawan.
Jika melihat julukan sebagai harimau rawa, Persih mungkin punya visi yang sama seperti Italia, yakni fokus pada hasil, yang penting menang. Pelatih Persiraja harus membaca itu untuk mencari jalan keluar sebagai pemenang dan Si Harimau Rawa tunduk. Jika mau simple, Herry Kiswanto cukup berpegang pada pesan tetua, tataplah mata harimau itu. Jangan biarkan mereka menyerang dan pegang kendali. Jangan pula memberi waktu untuk mereka sedikitpun, sebab harimau tidak akan membuang-buang kesempatan yang ada di depan matanya.
Kalau Herry mau detail, silakan konsultasi dengan pawang harimau yang ada di daerah yang sering berkonflik dengan harimau, siapa tahu ada inspirasi lain untuk menjebak Harimau Rawa masuk perangkap, lalu Herkis menerjemahkannya dalam bahasa sepakbola. Supaya Persiraja bisa menerkam Harimau Rawa.
Harian Aceh 29/3/2011