Selasa, 29 Maret 2011


Catatan Sepakbola

TERKAM HARIMAU RAWA...!
Oleh Lukman Emha

Persiraja tak membawa pulang poin satupun dalam tur Jawa kali ini. Musawir Cs ditekuk 1-0 oleh tuan rumah Persipasi dan dibantai Persita di Stadion Benteng Tangerang dengan marka 3-1. Di Stadion Lampineung Selasa petang (29/3), Persiraja kedatangan tamu sangar Persih Tembilahan yang berjuluk Harimau Rawa.

Bacalah karakter harimau bila ingin menaklukkannya. Iseng, saya browsing pakai jasa om google dan klik. Ternyata beberapa karakter harimau yang saya jumpai diantaranya adalah agresif, tanpa basa basi, suka pegang kendali, menghindari detail, fokus dengan hasil dan tujuan akhir, dan tidak suka membuang-buang waktu. Karakter begini ngeri sekali. Apakah Persih Tembilahan se-ngeri itu?

Banyak alasan pemberian julukan untuk sebuah tim atau kesebelasan. Biasanya sebuah tim dijuluki karena merepresentasikan karakter yang dijuluki. Misalnya, Brazil dijuluki Tim Samba karena pemain-pemainnya gemar bersamba-ria dalam permainan sepakbola mereka. Jerman dijuluki Panzer lantaran pola serangannya kaku seperti panzer. 

Sayang, kita tidak punya rekaman pertandingan Persih untuk memastikan apakah permainan mereka benar-benar berkarakter harimau rawa. Untuk mewaspadai, kita anggap saja Persih memenuhi syarat untuk dijuluki Harimau Rawa. Jika demikian halnya, maka allenatore Persiraja harus sudah punya strategi menaklukkan si raja rawa itu.

Para tetua di Aceh sering mengingatkan, kalau berjumpa dengan harimau di hutan, jangan sesekali membelakanginya. Pamali alias pantang katanya. Bila pantangan ini tidak digubris, alamat diterkam oleh si raja hutan itu. 

Harimau rawa saya pikir tidak berbeda jauh dengan karakter harimau hutan. Salah satu kekuatan harimau terletak pada sorotan matanya yang tajam. Oleh sebab itu, tetua menganjurkan, kalau ketemu harimau tataplah matanya dan jangan sampai berkedip sampai harimau menyerah dan mundur. 

Kekuatan sorotan mata harimau dalam sepakbola bisa diterjemahkan sebagai visi permainan sebuah tim. Misalnya sebuah tim memasang visi asal menang walau dengan cara apapun, yang penting hasil akhir. Tim lainnya memasang visi, menang dengan main indah. 

Italia mungkin mewakili visi sepakbola yang pertama. Makanya, bagi Italia permainan indah tidak penting. Yang penting menang. Mereka pemilik sah catenaccio alias pertahanan gerendel karena tak segan-segan memperagakan permainan ultra defensive dengan menempatkan 6 sampai 8 pemainnya di sektor pertahanan untuk melindungi gawangnya dari ancaman lawan. 

Jika melihat julukan sebagai harimau rawa, Persih mungkin punya visi yang sama seperti Italia, yakni fokus pada hasil, yang penting menang. Pelatih Persiraja harus membaca itu untuk mencari jalan keluar sebagai pemenang dan Si Harimau Rawa tunduk. Jika mau simple, Herry Kiswanto cukup berpegang pada pesan tetua, tataplah mata harimau itu. Jangan biarkan mereka menyerang dan pegang kendali. Jangan pula memberi waktu untuk mereka sedikitpun, sebab harimau tidak akan membuang-buang kesempatan yang ada di depan matanya.

Kalau Herry mau detail, silakan konsultasi dengan pawang harimau yang ada di daerah yang sering berkonflik dengan harimau, siapa tahu ada inspirasi lain untuk menjebak Harimau Rawa masuk perangkap, lalu Herkis menerjemahkannya dalam bahasa sepakbola. Supaya Persiraja bisa menerkam Harimau Rawa. 

Harian Aceh 29/3/2011


Selasa, 22 Maret 2011


Catatan Sepakbola

JANGAN ULANGI PENGALAMAN BURUK
Oleh Lukman Emha

Persiraja Banda Aceh baru saja mengamankan enam poin di kandangnya. Fahrizal Dillah dkk berhasil membenamkan Persitara Jakarta Utara 5-1 dan membekap Persikabo 2-0 dalam laga bertajuk balas dendam di Lampineung. Hasil positif ini membuat Persiraja menempel ketat pimpinan klasemen (PSAP) dengan poin 38. Sayang, agregat gol Persiraja yang buruk membuat PSAP berhak memuncaki klasemen.

Dua laga away kini di depan mata. Persipasi Bekasi dan Persita Tangerang sudah menunggu tim asuhan Hery Kiswanto di markasnya. Tandang pertama dihelat di Stadion Patriot, markas Persipasi Bekasi yang berlangsung Selasa sore (22/3). Tiga hari kemudian (25/3), Persiraja akan mengunjungi markas Persita di Tangerang.

Persipasi adalah tim terkuat di Pulau Jawa dalam Group 1. Tim asuhan Warta Kusuma ini bercokol di urutan ke-4 klasemen dengan nilai 28, terpaut dua angka dari PSMS Medan yang di peringkat 3. Dari 17 laga yang dimainkan, mereka sudah merengkuh 8 kali kemenangan, 4 kali draw, dan 5 kali kalah. Persipasi sudah 27 kali menyarangkan gol dan 17 kali kebobolan.

Sulit bagi Persiraja untuk menaklukkan Persipasi di hadapan tifosinya.  Mereka tim yang komplit dengan kolektivitas dan fisik yang bagus. Pada leg pertama di Lampineung, Persipasi bermain bagus dan Persiraja hanya mampu menang 1-0. Di putaran kedua ini perjuangan Persiraja akan lebih berat. Semua tim, tak terkecuali Persipasi, membenahi diri untuk ngebut mencari poin terutama di kandangnya. Tidak ada lagi permainan santai. Semua laga seperti laga hidup mati.

Persipasi membutuhkan poin penuh untuk bersaing dengan PSMS yang menggeser kursi mereka dari peringkat tiga. PSMS yang sebelumnya terseok-seok di papan tengah, kini telah kembali di jalur juara dan semakin memanaskan perebutan rangking 4 besar untuk menjaga peluang berlaga di Liga Super musim depan.

Untuk mewujudkan keinginannya, Warta Kusuma sebagaimana diberitakan indopos.co.id semakin mematangkan permainan anak asuhnya untuk menghadapi laga berat melawan Persiraja. Warta akan menurunkan tenaga muda seperti Ubaidillah dan Munirul untuk meladeni kreativitas Lantak Laju. Gelandang enerjiknya, Asmar Abu, dipastikan kembali merumput karena telah menjalani hukuman akumulasi kartu.

Musim lalu (22/3/10), Persiraja punya pengalaman buruk di Stadion Patriot. Andrea Cs disikat 4 gol tanpa balas. Kita tidak ingin pengalaman yang sama  terulang. Pecinta Lantak Laju berharap banyak pada tangan dingin Herry Kiswanto yang memahami betul permainan tim-tim di Jawa. Kang Herry harus membuktikan bahwa Persiraja di tangannya sama sekali berbeda dengan Persiraja yang terkapar di Patriot musim lalu.

Kita berharap Persiraja tidak sekadar mencuri poin di kandang lawan, yang berarti berharap draw. Kemenangan harus tetap menjadi target di manapun tim bermain. Tim yang besar harus punya mimpi besar. Apalagi seluruh punggawa siap turun. Djibril kembali akan turun karena telah menjalani hukuman bermain pada laga melawan Persikabo. Ada baiknya juga Herkis menjajal Safri Umri yang baru pulang dari seleknas. Kepercayaan diri pemain ini pasti jauh lebih baik. Hanya Fahrizal Dillah yang harus menepi karena akumulasi kartu kuning pada dua pertandingan sebelumnya.

Bagi saya, pertandingan nanti sore merupakan pertarungan dua tim papan atas dengan pertahanan sama buruknya. Penjaga gawang Persipasi dan Persiraja sudah 17 kali memungut bola dari jaringnya. Pertahanan kedua tim lebih buruk dari pertahanan Persita dan PSLS yang masing-masing berada di peringkat 6 dan 8. Kedua tim cuma kemasukan 14 kali. So, pertahanan siapa yang akan lebih buruk? Persiraja, jangan ulangi pengalaman buruk!

dikutip dari harian aceh (22/3/11)


Senin, 07 Maret 2011


Hasil Pertandingan (6/3/11)

PSAP Sigli 1 vs 0 Persiraja Banda Aceh
Stadion: Kuta Asan Sigli
Pencetak Gol: PSAP (Reza fandi ‘9)
Kartu Kuning: ?
Kartu Merah: 0

Atjeh United 2 vs 0 Semarang United
Stadion: Harapan Bangsa Aceh Besar
Pencetak Gol: Atjeh United (Alvin Tehau ‘5, Andika ‘15)
Kartu Kuning: Yum Dong Jin, Piere Nyanka (AU)
Kartu Merah: 0
*Lionel Charbonnier, Pelatih Atjeh United diusir dari bench

Jadwal Selanjutnya (13/3/11)

Persiraja Banda Aceh vs Persitara Jakarta Utara
Stadion: H Dimoerthala Lampineung Banda Aceh
Pencetak Gol: ?
Kartu Kuning: ?
Kartu Merah: ?

Atjeh United vs Persebaya 1927
Stadion: Gelora 10 November Tambak Sari Surabaya
Pencetak Gol: ?
Kartu Kuning: ?
Kartu Merah: ?


Kamis, 03 Maret 2011


Catatan Sepakbola
Laskar Pasee dalam Ancaman
Oleh Lukman Emha

PSLS Lhokseumawe baru saja digebuk PSAP Sigli (0-1) di markasnya Stadion Tunas Bangsa Lhokseumawe (25/2). Terkapar di kandang sendiri tentu saja merupakan hasil yang amat buruk. Apalagi mereka telah bertekad untuk mampu bersaing dengan tim manapun di putaran kedua Divisi Utama Liga Indonesia 2010/2011 untuk menjaga eksistensi mereka di kasta kedua sepakbola tanah air.

Padahal, demi tekadnya itu, PSLS telah merogoh kocek dalam-dalam untuk mengontrak tiga pemain asing supaya menutupi kekurangan mereka selama ini. Ketiga pemain tersebut adalah striker Carlos Raul (Argentina), gelandang Koube Salomon (Kamerun), dan defender Konah (Liberia). Sayang, penambahan darah segar belum memperbaiki prestasi Laskar Pasee.

Saat dalam kondisi mental terpuruk, sore nanti di Stadion yang sama, PSLS disambangi saudara kandungnya, Persiraja Banda Aceh. Pemimpin klasemen sementara itu justru sedang dalam kondisi mental yang amat baik pascamempecundangi tuan rumah PSSB Bireun (0-2) di Cot Gapu (26/2), sehingga mampu memelihara jarak empat poin dengan runner up sementara PSAP Sigli.

PSLS harus bekerja extra untuk memuaskan pecintanya dengan mengalahkan Persiraja. Betapa tidak, perlahan tapi pasti, Persiraja pada musim ini mulai meninggalkan predikat jago kandangnya. Sebab, tim asuhan Heri Kiswanto itu kini telah menjelma sebagai momok menakutkan bagi tuan rumah manapun. Sekedar mengingatkan, Andrea cs. baru sekali kehilangan angka di partai tandangnya, yakni ketika bertandang ke Cibinong, markas Persikabo. Kekalahan itupun, lebih diakibatkan oleh sikap kontroversial Hadi Suroso yang bertindak sebagai pengadil dalam laga yang menghasilkan 7 (4-3) gol itu.

Tidak mustahil, PSLS nanti sore akan dilumat oleh tim yang dimanajeri Adli Tjalok itu. Persiraja mengincar kemenangan keduanya pada putaran kedua. Hanya kemenangan yang akan mengamankan posisi pimpinan klasemen dari kejaran PSAP yang baru saja unggul 2-3 dari tuan rumah PSSB Bireun (Akun FB Persiraja). Bila tim asal Kota Banda Aceh itu kalah dari PSLS, dipastikan jarak Persiraja-PSAP hanya terpaut satu angka.
Bila itu terjadi, Kursi puncak klasemen yang diduduki Persiraja akan memanas. Pasalnya, partai tandang selanjutnya yang akan dijalani Persiraja berlangsung di Kuta Asan (6/3), markas PSAP yang angker bagi tim tamu manapun. PSSB dan PSLS sudah merasakan betapa angkernya Kuta Asan bagi mereka. Rusuh selalu manjadi bumbu setiap pertandingan yang dilangsungkan di sini. Jika bukan karena ulah penonton, maka pemainlah yang adu jotos.

Sulitnya mencuri poin di Kuta Asan tentu saja sudah dihitung Persiraja jauh-jauh hari. Jika Persiraja kalah di Lhokseumawe, lalu kalah lagi di Kuta Asan, maka itu berarti Persiraja akan kehilangan tahta. Oleh sebab itu, laga lawan PSLS akan coba dimanfaatkan oleh Persiraja semaksimal mungkin untuk menambah pundi-pundinya dengan gol. Kunci mempertahankan tahta klasemen ada di laga ini.

Masuk akal, Persiraja mengincar tiga angka di Lhokseumawe. Stadion Tunas Bangsa tidak seangker Kuta Asan bagi setiap lawan PSLS. Di sini suporternya tidak begitu fanatik (jika tidak dibilang sopan) dan PSLS sudah dua kali menuai kekalahan. Jika menang, maka sekalipun Persiraja kalah di Kuta Asan tidak berarti kehilangan tahtanya. Itu hanya akan memperpendak jarak kedua tim menjadi satu angka.

Situasi ini harus dipahami PSLS. Imran Juned selaku arsitek harus menyiapkan strategi untuk meredam gempuran pemain Persiraja. Tiga darah segar dalam diri pemain asing teranyar mereka harus dioptimalkan jika Imran tak mau kehilangan muka di hadapan tifosinya untuk kali kedua di putaran ini. Imran harus membenahi setiap kelemahan yang tampak dalam tarung melawan PSAP. Dan menjadikan kekalahan dari tim asuhan Anwar itu sebagai cemeti untuk bangkit dan membunuh Persiraja.

Saya yakin, Imram Juned memahami betul karakteristik permainan Djibril cs. Sebab, itulah kerja seorang pelatih. Membaca permainan lawan, dan menyiapkan strategi khusus untuk memorak-porandakan karakter lawan lalu menyudahi lawan dengan trik tertentu yang membuat lawan tak berkutik.

Laga perdana di Lampineung dapat dijadikan Imran sebagai acuan untuk mempelajari permainan Persiraja. Sedikit banyaknya, Imran bisa berdiskusi dengan Mukhlis Sawang, anak asuhnya yang mantan pemain Persiraja. Sekalipun kini Persiraja diasuh Heri Kiswanto, secara umum karakter permainan Persiraja tidak berubah drastis. Tapi, perkembangan mental Persiraja cukup signifikan.

Kita tunggu saja strategi arsitek Laskar Pasee menghalau ancaman Laskar Rencong.