Catatan Sepakbola
(TANPA) MAGIS IRFAN BACHDIM
Oleh Lukman Emha
Siapa yang tidak kenal Irfan Bachdim? Saya yakini hampir tidak ada penggemar sepakbola tanah air yang tidak mengenalnya. Dari anak-anak, ABG (Anak Baru Gede), sampai orang dewasa pasti familiar dengan sosok itu.
Namanya Irfan Haarys Bachdim. Lahir di Amsterdam, 11 Agustus 1988. Ayah Irfan bernama Noval Bachdim, ibunya Hester van Dijic. Kakeknya Ali Bachdim. Dalam bermain sepakbola, Irfan bisa menempati berbagai posisi seperti penyerang, gelandang , maupun sayap.
Piala AFF 2010 tahun lalu telah memopulerkan nama Irfan. Proyek naturalisasi pemain asing yang dilakukan PSSI memberinya kesempatan untuk menjadi pemain nasional Indonesia. Penampilannya di tim nasional ciamik. Wajahnya bagi sebagian kaum hawa dikategorikan handsome. Jadilah anak blasteran Malang-Belanda itu sebagai magnet di lapangan hijau.
Daya magnetiknya dibaca secara jeli oleh pengusaha. Irfan yang sedang digilai banyak orang terutama perempuan ABG dipandang potensial bisnis. Akhirnya, sebuah perusahaan produk minuman berenergi memasangnya sebagai bintang iklan. Perusahaan sepeda motor Suzuki juga memercayakannya sebagai bintang iklan produk mereka. Sehingga icon baru tim nasional itu semakin popular dan hidup dalam ingatan penggemarnya.
Bukan hanya pengusaha, pacar Irfan, Jennifer Kurniawan, turut diuntungkan oleh popularitas sang pacar. Awalnya Jennifer bekerja sebagai model di Jerman, kini si seksi ini siap pindah kerja ke Indonesia dan bersaing dengan para model di tanah air.
Wajah Jennifer juga mulai akrab di layar kaca. Selain jadi pemberitaan seputar asmaranya dengan Irfan, ia juga diundang sebagai bintang tamu dalam beberapa programa di tv swasta, misalnya online yang digawangi Olga-Jengkelin dan wisata kuliner menemani Bondan ‘Maknyus’di stasion Transtv. Kabarnya, Jennifer sudah pula terjun ke dunia perfilman Indonesia. Di pinggiran FB (facebook) kerap muncul berita, kakak Jefry Kurniawan itu ditawari main film panas dengan bayaran milyaran rupiah. Syukur, Jennifer ogah buka-bukaan.
Belakangan Irfan sudah tidak dipanggil tim nasional. Buntut keputusannya berlaga di LPI (Liga Primer Indonesia), liga yang dipandang ilegal oleh Nurdin Halid Cs. PSSI mengancam coret semua pemain yang berlaga di luar kompetisi yang dikelola seenak perutnya oleh mafia dalam tubuh PSSI. Makanya sekalipun tenaganya dibutuhkan di tim olimpiade, Riedl tidak memanggil Irfan. Dimaklumi, Riedl adalah pelatih yang diangkat PSSI yang tentu saja harus manut pada Big Boss Nurdin Halid. Tim olimpiadepun gagal.
Dicoret dari tim nasional tidak lantas membuat popularitas Irfan redup. Ia tetap saja mentereng. Penggemar masih membicarakannya lantaran tetap bersinar di lapangan hijau. Sampai geornata ke 10, Persema Malang merajai LPI dan Irfan pendulang gol terbanyak untuk kemenangan Laskar Ken Arok itu. 7 gol sudah ia lesakkan dan bertengger sebagai top scorer sementara bersama Juan Cortez (Batavia Union).
Cidera
Sayang seribu sayang. Penggemar Irfan di Aceh akan kecele. Pasalnya, Irfan dipastikan tidak ikut serta dalam tim Persema yang akan menjajal Atjeh United di Stadion Harapan Bangsa pada Minggu (3/4) petang, karena masih dibekap cidera engkel.
Padahal, partai Atjeh United vs Persema Malang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat sepakbola Aceh. Selain ingin menyaksikan permainan Persema secara tim, olah bola Irfan tentu saja daya tarik lain yang dinantikan oleh masyarakat Aceh.
Namun, tanpa Irfan Bachdim-pun, pertandingan tetap menarik. Persema tidak hanya memiliki Irfan, tetapi sederet pemain bintang yang lain, seperti Jefry Kurniawan, Bima Sakti, Pierre Patrick, Ngon Mamoun, dan lainnya. Secara tim mereka amat solid. Sampai minggu ke 10 mereka belum terkalahkan. Pertandingan sebelumnya di Stadion Gajayana, Persema menang 4-1 meskipun tanpa Irfan Bachdim.
Bagi Atjeh United, absennya Irfan merupakan keuntungan tersendiri. Paling tidak konsentrasi lini belakang tidak terganggu oleh kebintangan Irfan. Atjeh United berambisi mematahkan rekor tak terkalahkan Persema. Hal itu wajib dilakukan Atjeh United untuk mengamankan poin kandang sekaligus membuktikan pada pecinta sepakbola di Aceh, bahwa Atjeh United benar-benar telah membaik paska mempecundangi Solo FC 0-3 di Stadion Manahan Solo. Buktikan, Atjeh United..!
Sumber: harian aceh/3/4/2011